BPS Kota Sorong Catat Inflasi 0,15 Persen pada Agustus 2026, TPK Hotel Juli Naik Menjadi 37,98 Persen - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Kota Sorong

Dalam rangka mengidentifikasi kebutuhan data dan kepuasan layanan BPS, mohon partisipasi Saudara dalam Survei Kebutuhan Data 2024 pada link berikut

BPS Kota Sorong telah menerbitkan 289 publikasi sampai bulan Mei 2024. Klik Link untuk dapat melihat publikasi-publikasi BPS Kota Sorong.

Anda Butuh Data? Kami Siap Melayani. Pelayanan Statistik Terpadu BPS Kota Sorong buka pada hari kerja pukul 08.00-15.30 WIB

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

BPS Kota Sorong Catat Inflasi 0,15 Persen pada Agustus 2026, TPK Hotel Juli Naik Menjadi 37,98 Persen

BPS Kota Sorong Catat Inflasi 0,15 Persen pada Agustus 2026, TPK Hotel Juli Naik Menjadi 37,98 Persen

BPS Kota Sorong Catat Inflasi 0,15 Persen pada Agustus 2026, TPK Hotel Juli Naik Menjadi 37,98 Persen

1 September 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya


Sorong, (1/9) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sorong merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi Kota Sorong untuk periode Agustus 2026 serta Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel untuk periode Juli 2026. Rilis Berita Resmi Statistik tersebut disampaikan pada Selasa, 1 September 2026.

Kepala BPS Kota Sorong, Tri Rotua Maulina Siagian, mengatakan perkembangan IHK Kota Sorong dihitung berdasarkan Survei Harga Konsumen (SHK) yang dilaksanakan BPS Kota Sorong pada Agustus 2026. “Pada bulan Agustus 2026, Kota Sorong mengalami inflasi secara month to month sebesar 0,15 persen, inflasi tahun ke tahun atau year on year sebesar 4,08 persen, dan inflasi tahun kalender sebesar 3,53 persen,” ujar Tri.


Inflasi Bulanan Kota Sorong 0,15 Persen

Tri menjelaskan, inflasi Kota Sorong secara bulanan pada Agustus 2026 berbalik dibandingkan kondisi Juli 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,26 persen. Sementara jika dibandingkan Agustus 2025, Kota Sorong pada Agustus 2025 juga mengalami inflasi sebesar 1,19 persen.

“Selama setahun terakhir ini Kota Sorong telah mengalami delapan kali inflasi dan lima kali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada Juni 2026, yaitu sebesar 2,06 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi pada Februari 2026 sebesar 0,81 persen,” jelasnya.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran mencatat inflasi tertinggi secara bulanan, yakni sebesar 1,26 persen, dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,08 persen. Sementara itu, kelompok Transportasi mengalami deflasi terdalam sebesar 1,12 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,12 persen.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 0,56 persen dengan andil 0,23 persen. Kelompok Pakaian dan Alas Kaki mengalami deflasi 0,17 persen dengan andil minus 0,01 persen. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami deflasi 0,42 persen dengan andil minus 0,08 persen.

Sementara itu, kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mengalami inflasi 0,32 persen dengan andil 0,01 persen; Kesehatan mengalami deflasi 0,63 persen dengan andil minus 0,01 persen; Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami inflasi 0,52 persen dengan andil 0,03 persen; Rekreasi, Olahraga, dan Budaya mengalami deflasi 0,08 persen; Pendidikan mengalami inflasi 0,18 persen dengan andil 0,01 persen; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran mengalami inflasi 1,26 persen dengan andil 0,08 persen; serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 0,25 persen dengan andil 0,01 persen.


Ikan Tuna Menjadi Penyumbang Inflasi Terbesar Secara Bulanan

Menurut Tri, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kota Sorong secara month to month pada Agustus 2026 didominasi komoditas perikanan.

“Komoditas penyumbang inflasi yaitu ikan tuna sebesar 0,46 persen, ikan teri sebesar 0,08 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,07 persen, ikan kembung, ikan gembung, ikan banyar, ikan gembolo, ikan aso-aso sebesar 0,06 persen, dan bayam sebesar 0,04 persen,” katanya.

Sementara komoditas yang menjadi penyumbang deflasi secara bulanan adalah tomat sebesar 0,20 persen, angkutan udara sebesar 0,15 persen, ikan layang/ikan benggol sebesar 0,12 persen, bawang merah sebesar 0,10 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Tri mengatakan sebagian besar komoditas penyumbang inflasi Agustus 2026 berasal dari komoditas perikanan.

“Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang mengakibatkan turunnya hasil tangkapan nelayan sehingga memicu kenaikan harga komoditas ikan,” ujarnya.


Inflasi Tahunan Turun Menjadi 4,08 Persen

Secara tahunan, Kota Sorong pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 4,08 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Juli 2026 yang mencatat inflasi year on year sebesar 5,16 persen. Namun, dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat inflasi sebesar 1,74 persen, inflasi Agustus 2026 mengalami peningkatan.

“Jika dibandingkan bulan Juli 2026 terjadi penurunan, dimana pada bulan Juli 2026 inflasi year on year sebesar 5,16 persen. Kemudian jika dibandingkan kondisi Agustus 2025 maka terjadi peningkatan yang cukup besar, dimana pada bulan Agustus 2025 inflasi year on year sebesar 1,74 persen,” kata Tri.

Menurutnya, peningkatan inflasi Agustus 2026 dibandingkan Agustus 2025 disebabkan oleh adanya lonjakan harga tiket pesawat.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok Transportasi, yaitu sebesar 10,51 persen, dengan andil sebesar 1,00 persen. Sementara itu, andil inflasi terbesar secara tahunan berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yakni sebesar 1,48 persen.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi 3,80 persen dengan andil 1,48 persen. Pakaian dan Alas Kaki mengalami inflasi 0,20 persen dengan andil 0,01 persen. Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami inflasi 3,13 persen dengan andil 0,57 persen.

Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mengalami inflasi 2,19 persen dengan andil 0,10 persen; Kesehatan 2,99 persen dengan andil 0,05 persen; Transportasi 10,51 persen dengan andil 1,00 persen; Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 4,96 persen dengan andil 0,31 persen; Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 6,61 persen dengan andil 0,09 persen; Pendidikan 0,17 persen dengan andil 0,01 persen; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran 4,11 persen dengan andil 0,28 persen; serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya 3,75 persen dengan andil 0,18 persen.


Angkutan Udara dan Ikan Tuna Dominasi Inflasi Tahunan

Untuk komoditas penyumbang inflasi secara year on year pada Agustus 2026, angkutan udara memberikan andil terbesar, yakni 0,80 persen. Selanjutnya ikan tuna memberikan andil 0,72 persen, bahan bakar rumah tangga sebesar 0,36 persen, emas perhiasan sebesar 0,21 persen, dan telepon seluler sebesar 0,18 persen.

Adapun komoditas penyumbang deflasi secara tahunan adalah bawang merah sebesar 0,21 persen, tomat sebesar 0,15 persen, cabai rawit sebesar 0,12 persen, sawi hijau sebesar 0,07 persen, dan kangkung sebesar 0,06 persen.

Tri merangkum bahwa inflasi Kota Sorong pada Agustus 2026 tercatat 0,15 persen secara month to month, 4,08 persen secara year on year, dan 3,53 persen secara year to date.

“Penyumbang utama inflasi bulan Agustus 2026 secara month to month adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,23 persen,” jelasnya.

Komoditas penyumbang utama inflasi bulanan tersebut antara lain ikan tuna, ikan teri, nasi dengan lauk, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso, bayam, angkutan laut, pisang, ikan kakap merah, telepon seluler, dan ikan kuwe/ikan cepa.

Sementara secara year on year, penyumbang utama inflasi berasal dari tiga kelompok. Pertama, Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 1,48 persen, dengan komoditas penyumbang utama antara lain ikan tuna, daging ayam ras, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso, ikan teri, ikan kuwe/ikan cepa, beras, ikan asap, ikan kakap merah, cabai merah, dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu.

Kedua, kelompok Transportasi dengan andil 1,00 persen, yang antara lain dipengaruhi angkutan udara, bensin, pelumas/oli mesin, mobil, sepeda motor, solar, dan biaya pengiriman barang.

Ketiga, kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 0,57 persen, dengan komoditas penyumbang antara lain bahan bakar rumah tangga, cat tembok, seng, sewa rumah, kayu lapis, semen, kayu balokan, besi beton, dan keramik.


TPK Hotel Kota Sorong Naik pada Juli 2026

Selain perkembangan inflasi, BPS Kota Sorong juga merilis perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel Juli 2026. Data tersebut dihimpun berdasarkan Survei VHTS dengan sampel 34 hotel di Kota Sorong.

Untuk hotel bintang, TPK pada Juli 2026 tercatat sebesar 44,25 persen, meningkat 1,67 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 42,58 persen.

“Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang secara umum pada bulan Juli 2026 adalah 2,02 hari, naik 0,22 poin dibandingkan bulan Juni 2026 yang sebesar 1,80 hari,” kata Tri.

Rata-rata lama menginap tamu asing hotel bintang pada Juli 2026 tercatat 1,49 hari, naik 0,27 poin dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,22 hari. Sementara rata-rata lama menginap tamu domestik mencapai 2,06 hari, naik 0,23 hari dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,83 hari.

Untuk hotel nonbintang, TPK pada Juli 2026 sebesar 25,78 persen, turun 0,57 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 26,35 persen.

“Rata-rata lama menginap tamu secara umum hotel nonbintang pada bulan Juli 2026 adalah 1,07 hari, naik 0,04 poin dibandingkan bulan Juni 2026 yang sebesar 1,03 hari,” ujar Tri.

Rata-rata lama menginap tamu asing hotel nonbintang tetap sebesar 1,00 hari, tidak mengalami perubahan dibandingkan Juni 2026. Sementara rata-rata lama menginap tamu domestik meningkat menjadi 1,07 hari, naik 0,04 poin dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,03 hari.


TPK Hotel Secara Keseluruhan Mencapai 37,98 Persen

Secara keseluruhan, Tingkat Penghunian Kamar hotel di Kota Sorong pada Juli 2026 mencapai 37,98 persen, atau meningkat 0,79 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 37,19 persen.

“Untuk indikator pariwisata hotel di Kota Sorong, Tingkat Penghunian Kamar pada bulan Juli sebesar 37,98 persen, naik 0,79 persen dibandingkan bulan Juni 2026 yang sebesar 37,19 persen,” jelas Tri.

Rata-rata lama menginap tamu hotel di Kota Sorong secara keseluruhan pada Juli 2026 tercatat 1,74 hari, naik 0,16 poin dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,58 hari.

Untuk tamu asing, rata-rata lama menginap tercatat 1,48 hari, naik 0,27 poin dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,21 hari. Sementara rata-rata lama menginap tamu domestik mencapai 1,75 hari, naik 0,15 hari dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 1,60 hari.


Dengan demikian, perkembangan indikator pariwisata Kota Sorong pada Juli 2026 menunjukkan adanya peningkatan TPK hotel secara keseluruhan dibandingkan Juni 2026, yang disertai kenaikan rata-rata lama menginap tamu secara umum, tamu asing, maupun tamu domestik. Data ini merupakan bagian dari statistik resmi BPS Kota Sorong mengenai perkembangan harga konsumen dan indikator pariwisata.

Bahan tayang dan naskah Berita Resmi Statistik BPS Kota Sorong dapat diakses melalui situs resmi BPS Kota Sorong.

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Kota Sorong (Statistics of Sorong Municipality)Jln. Merpati No.7

Kelurahan Remu Utara

Kota Sorong

Papua Barat. E-mail: [email protected]

logo_footer

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik